Misteri Piramida di Meksiko, Siapa Penjaga Waktu yang Nembangunnya?

Suara.com – Lina Zeldovich

BBC Travel

Dibangun oleh masyarakat adat pemahat batu asli, piramida berusia 1.500 tahun ini masih berdiri kokoh. Ribuan bebatuan berbentuk punden berundak ini direkatkan dengan lem alami dari kaktus berduri. Siapa yang membangun dan apa fungsi situs ini?

Dari kejauhan, bebatuan berwarna abu-abu berbentuk piramida menjulang tinggi dan tembok batu yang mengelilinginya tampak seperti sesuatu yang secara alami dibuat oleh ibu pertiwi.

Terletak di Caada de La Virgen (Lembah Perawan), sebuah area sekitar 30 mil di luar kota San Miguel de Allende di dataran tinggi Meksiko tengah, formasi batu itu menyatu dengan lanskap gersang dan kering layaknya kawasan pegunungan.

Namun ketika saya semakin dekat dengan bangunan yang terbesar dari tiga struktur yang ada di sana, tak diragukan lagi itu adalah buatan manusia.

Tangga dengan anak tangga yang identik, terpahat di batu berwarna gelap yang keras. Struktur bangunan ini jelas membutuhkan tangan seorang pemahat batu yang terampil.

Dua piramida lainnya, yang berukuran lebih kecil dan kurang terawatt, memiliki sentuhan yang sama.

Struktur bangunan kuno ini didirikan oleh peradaban yang telah lama berlalu.

Baca juga:

Masyarakat lokal telah lama mengetahui keberadaan reruntuhan piramida yang terletak di luar kota tempat tinggal mereka.

Beberapa di antara mereka bergunjing bahwa ada mayat-mayang yang dimakamkan di piramida batu, sementara lainnya berbicara tentang emas yang tersembunyi.

Penggali kubur telah menjarah dan bahkan mencoba meledakkannya dengan dinamit, namun tidak diketahui apakah mereka mendapat keberuntungan di piramida itu.

Terbengkalai selama beberapa abad, situs itu tetap menjadi misteri bagi dunia di luar San Miguel de Allende, sampai tim arkeolog Meksiko mulai menggali lebih dalam pada awal 2000-an.

Dibangun 450 M

Antropolog lokal Albert Coffee, yang juga membantu penggalian, mulai memandu tur bagi pengunjung yang ingin tahu seperti saya, sejak 2011.

Ini adalah The House of Thirteen Heavens, dibangun sekitar tahun 540 M oleh orang-orang yang tinggal di sini pada waktu itu,” katanya saat kami berjalan di sekitar lokasi.

Dia menunjuk ke piramida tertinggi, yang memiliki dasar persegi panjang, sisi miring dan tangga menuju ke atas platform datar, dengan tinggi sekitar 15 meter.

“Mereka menambang batu tufa ini di tambang terdekat.”

Dua struktur yang lebih kecil, bernama The House of the Wind dan The House of the Longest Night, dibangun dari bahan yang sama, tambahnya.

Tapi persisnya apa yang dibangun oleh masyarakat kuno di situs itu tetap menjadi misteri, bahkan setelah lebih dari dua dekade penggalian.

Itu karena menentukan siapa yang membangun piramida terbukti sulit.

“Dalam banyak hal, tempat ini masih menjadi misteri, dan terus mengejutkan kami,” kata Coffee.

“Kami terus mencari informasi baru.”

Apa yang sudah berhasil diketahui adalah bahwa The House of Thirteen Heavens adalah kuil yang didedikasikan untuk tugas yang sangat penting di zaman kuno: menjaga waktu.

Berabad-abad yang lalu, melacak waktu, dan musim, bukanlah tugas yang mudah.

Tidak ada jam dan tidak ada kalender, jadi orang-orang melihat ke benda-benda langit di langit untuk tetap mendapat informasi.

Baca juga:

“Hari ini kita menjaga waktu dengan jam tangan dan iPhone, tetapi saat itu orang harus menggunakan Matahari dan Bulan,” jelas arkeolog Rossana Quiroz, direktur Museum Astronomi PraHispanik di San Miguel de Allende.

Dia adalah arkeolog yang mengerjakan penggalian dengan Gabriela Zepeda dari Institut Antropologi dan Sejarah Nasional Meksiko.

“Orang-orang ini adalah pencatat waktu.”

Quiroz menjelaskan bahwa peradaban kuno ini membangun The House of Thirteen Heavens menjadi instrumen penanggalan berdasarkan pergerakan matahari sepanjang tahun dan menggunakannya untuk mengidentifikasi tanggal-tanggal penting untuk pertanian.

Mereka akan menginvestasikan sejumlah besar upaya untuk mendirikan piramida, katanya, yang telah berlangsung selama lebih dari 1.500 tahun.

Namun ironisnya, kisah mereka sendiri hampir seluruhnya hilang oleh waktu sebagian karena mereka tidak meninggalkan teks tertulis, dan karena penaklukan Spanyol atas Meksiko modern pada abad ke-16 menghancurkan masyarakat.

Namun, bagi budaya masyarakat lokal, melestarikan dan menghormati pengetahuan dan tradisi leluhur mereka sangat penting, terutama karena sejarah mereka sering disalahartikan atau dilupakan.

Itu sebabnya selama dua dekade terakhir, Quiroz dan Zepeda berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin fakta tentang para pencatat waktu kuno ini.

Sayangnya, meskipun berhasil memulihkan banyak artefak dari situs tersebut, mereka masih belum sepenuhnya menyatukan kepingan sejarahnya.

Dan setiap jawaban sepertinya hanya mengarah pada lebih banyak pertanyaan.

Mereka tahu bahwa pencatat waktu kuno adalah peradaban yang canggih dengan pemahaman yang tajam tentang astronomi, arsitektur, dan prinsip-prinsip konstruksi.

Banyak budaya pra-Columbus menyembah dewa-dewa tertentu, tetapi orang-orang ini menyembah penciptaan ruang dan waktu, kata Quiroz.

Teknik arsitektur canggih

Dalam hal desain arsitektur, mereka meniru apa yang terjadi selama penciptaan dunia seperti yang mereka ketahui.

Menurut sejarah lisan masyarakat adat lokal, Quiroz menjelaskan, entitas suci menciptakan dunia, ruang dan kehidupan, dan memberi manusia Matahari sebagai referensi untuk menceritakan waktu.

“Oleh karena itu, manusia harus meniru organisasi itu di Bumi. Pertama-tama Anda mengatur empat penjuru dunia. Dan kemudian Matahari bergerak di keempat penjuru sepanjang tahun, jelasnya.

Jadi, apa yang Anda lihat di kuil adalah replika dari apa yang terjadi selama penciptaan pertama alam semesta.”

Dalam hal pembangunan piramida, mereka menggunakan teknik arsitektur dan material yang canggih.

Mereka menambang batu tufa kasar yang terbentuk dari abu vulkanik yang mengeras dan memposisikannya sehingga masing-masing bagian membantu yang lain tetap di tempatnya metode yang disebut hueso.

Dan sementara piramida mungkin terlihat kasar dan tidak canggih hari ini, Coffee menjelaskan bahwa arsitek asli tidak berusaha keras untuk membuatnya indah, mendekorasi fasad dan tangga dengan batu kapur yang dipoles rapi yang mereka bawa dari bermil-mil jauhnya.

“Mereka menghabiskan waktu dua hingga tiga hari untuk mengangkutnya,” katanya.

Baca juga:

Untuk menempelkan potongan batu kapur dekoratif, mereka mengumpulkan zat perekat alami dari daun nopal kaktus pir berduri yang tumbuh di daerah tersebut dan menggunakannya sebagai perekat alami.

“Ketika Anda memotong daun kaktus dan membiarkannya di dalam air, keesokan harinya akan menjadi lengket,” kata Quiroz, menjelaskan bahwa ini adalah proses yang kemungkinan besar digunakan oleh para pembangun piramida.

“Jika Anda mencampurnya dengan mortar, Anda mendapatkan zat seperti lem yang lebih kuat,” tambahnya.

Metode berabad-abad ini masih digunakan sampai sekarang oleh beberapa penduduk asli yang tinggal di daerah tersebut dan telah diadopsi dalam pembangunan ramah lingkungan di Meksiko.

“Kami memulihkan pengetahuan orang-orang kuno,” kata Quiroz.

Siapa yang membuatnya?

Pada eksplorasi lebih lanjut dari struktur piramida, para arkeolog menemukan bahwa masyarakat kuno yang membangunnya memang menyimpan barang-barang yang sangat berharga, hanya saja bukan emas.

Mereka menemukan 19 mayat yang terkubur laki-laki, perempuan, seorang anak dan bahkan seekor anjing yang semuanya kini sedang diperiksa.

Hipotesis awal tim adalah bahwa situs tersebut dibangun oleh komunitas Otomi, yang keturunannya tinggal di daerah tersebut saat ini.

Baca juga:

Namun sejauh ini, para arkeolog belum bisa melakukan analisis DNA untuk membuktikannya secara utuh.

“Kami belum memiliki DNA orang-orang Otomi modern di bank DNA kami,” kata Quiroz dan itu bukan proses yang mudah untuk mendapatkannya.

“Harus ada izin dari komunitas. Dan ada juga orang Otomi yang berbeda. Jadi, ini adalah studi yang sangat canggih yang harus kamu lakukan. Tidak semudah kelihatannya.”

Misteri kerangka perempuan di puncak piramida

Namun, salah satu kerangka – ditemukan di bagian paling atas piramida terbesar – memberi para arkeolog lebih banyak bahan untuk dipikirkan.

Berdasarkan berbagai tanda pada tulangnya, mereka mulanya menganggapnya sebagai pria: seorang pemburu atau pejuang.

Tetapi analisis DNA terbaru mengungkapkan bahwa dia adalah seorang perempuan.

Lebih mengejutkan lagi, analisis menunjukkan bahwa tubuh itu jauh lebih tua daripada struktur itu sendiri.

Sementara kuil ini dibangun pada 540 M, kerangka perempuan itu berasal dari 400 SM, hampir satu millennium sebelumnya.

“Orang-orang ini telah membawa mayat itu ke mana pun mereka pergi, dan mereka membawanya setidaknya selama 950 tahun,” kata Quiroz.

“Itu berarti dia adalah leluhur yang sangat penting. Jadi, ketika mereka membangun kuil, mereka menempatkan tubuhnya di bagian paling atas. Tapi kita tidak tahu siapa dia dan mengapa dia begitu istimewa.”

Saat saya menaiki tangga, melangkah hati-hati karena tidak ada pegangan tangga untuk berpegangan, saya mencoba membayangkan budaya misterius yang membuat piramida itu menjadi tempat peristirahatan terakhir leluhur suci mereka.

“Mereka mungkin masyarakat matriarkal,” kata Coffee kepada saya; sesuatu yang bukan struktur masyarakat yang sangat umum di zaman kuno.

Baca juga:

Analisis genetik lebih lanjut mengungkapkan lebih banyak kejutan.

Setelah tim menjalankan analisis genom terhadap kerangka-kerangka tersebut, DNA mereka mengungkapkan kesamaan genetik dengan beberapa negara Meksiko lainnya, termasuk Nahuas, Purpecha, Tarahumara dan Maya.

Jadi, situs itu mungkin merupakan tempat pertemuan multikultural di mana orang-orang dari seluruh Meksiko datang untuk berkumpul, kata Coffee.

Para arkeolog berharap untuk mengungkap lebih banyak rahasia dari situs yang pernah terlupakan dan mengumpulkan teka-teki para pencatat waktu yang canggih ini.

Begitu banyak dari sejarah masyarakat ini telah hilang oleh waktu sampai nenek moyang mereka begitu pandai menjaganya.

“Itulah mengapa ilmu arkeologi sangat menarik,” kata Quiroz, karena dapat membantu kita mengungkap masa lalu.

Nenek moyang kita telah melalui banyak hal, katanya, jadi kita berutang kepada mereka untuk memulihkan kisah mereka dengan cara semaksimal mungkin.

“Bagaimana kita bisa mengingat pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu jika tidak dengan menceritakan kisah [mereka] berulang kali?” tuturnya.

Versi Bahasa Inggris dari artikel ini, Mexicos 1,500-year-old unknown pyramids, bisa Anda simak di laman BBC Travel.



Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website suara.com. Situs https://www.nerf-herders-anonymous.net adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://www.nerf-herders-anonymous.net tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *