Denise Chariesta Ajak RD dan Istrinya Tes HIV Bareng, Ketahui 6 Jenis Tes HIV yang Bisa Dipilih

Suara.com – Baru-baru ini, Denise Chariesta secara terbuka mengajak RD dan istrinya melakukan tes HIV bersama. Hal tersebut tampaknya dilakukan untuk menanggapi banyaknya warganet yang menganggap dirinya mengidap HIV.

“Lagi heboh hari ini katanya gua HIV,” kata Denise Chariesta mengutip unggahan di akun Instagram pribadinya, denisechariesta91.

“Tapi kalau gua HIV, RD udah pasti kena HIV juga lah. Terus udah gitu kalau RD HIV, berarti bininya juga,” lanjut Denise Chariesta.

Berbicara mengenai tes HIV, tahukah Anda bahwa tes untuk mendeteksi adanya virus human immunodeficiency ini bisa dilakukan dengan beberapa cara?

Jenis tes HIV

Tes HIV biasanya melibatkan tes darah, pasalnya virus ini paling banyak ditemukan dalam darah. Menurut laman Hello Sehat, berikut prosedur pemeriksaan HIV/AIDS yang bisa dilakukan.

1. Tes antibodi

Antibodi merupakan protein yang terbentuk sebagai respon karena adanya zat asing, seperti halnya virus HIV. Tes antibodi dilakukan dengan pengambilan sampel darah yang kemudian diuji ke laboratorium. Antibodi ini biasanya baru terbentuk setelah 3–12 minggu HIV bersemayam di tubuh Anda.

Selain dengan darah, tes antibodi juga dapat dilakukan dnegan air liur atau urin. Namun, tes ini banyak menampilkan false negative atau false positive.

2. Tes antibodi-antigen (Ab-Ag)

Pemeriksaan HIV satu ini bertujuan memeriksa ada tidaknya protein p24 yang merupakan bagian inti dari virus tersebut. Tes Ab-Ag ini penting dilakukan karena bisa mendeteksi virus lebih awal. Selain itu, hasilnya akan keluar lebih cepat dibandingkan tes antibodi saja.

Jika ditemukan adanya protein p24, detektor yang digunakan untuk memeriksa akan memancarkan cahaya. Reaksi ini kemudian dikenal dengan chemiluminescence.

3. Tes darah cepat

Pemeriksaan HIV/AIDS ini hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Tes ini juga sudah disetujui oleh Kementerian Kesehatan RI.

Prosedur tes ini juga hanya membutuhkan jumlah sampel yang sedikit. Tes darah cepat cocok digunakan untuk keadaan mendesak.

4. Tes ELISA

Enzyme-linked immunosorbent atau ELISA adalah tes darah yang juga digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya virus HIV. Sampel darah tersebut kemudian akan diteliti dengan antigen HIV untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi yang terbentuk sebagai respon adanya HIV.

Jika darah Anda mengikat gen, ini artinya ada virus HIV di dalam tubuh. Cawan yang digunakan untuk memeriksa juga akan menunjukkan perubahan warna.

Ilustrasi tes HIV (Shutterstock)

5. Tes western bolt

Jenis tes HIV satu ini digunakan untuk menindaklanjuti skrining awal yang menunjukan hasil positif. Pasalnya, tes ELISA seringkali menunjukan hasil false positive dan sebaliknya.

Pemeriksaan dengan western bolt juga biasa dilakukan saat hasil positif HIV sebelumnya disertai penyakit lain seperti lupus, penyakit Lyme, atau sifilis. Tes ini hanya membutuhkan satu hari untuk menunjukkan hasil. Namun, perlu diingat bahwa ini adalah tes lanjutan.

6. Tes virologis dengan PCR

Jenis tes HIV selanjutnya adalah penggunaan PCR atau polymerase chain reaction. Ini merupakan tes yang penting untuk ibu hamil yang positif HIV.

Tes ini mungkin membantu untuk mendeteksi infeksi HIV pada empat minggu pertama. Jadi, virologis juga cocok dilakukan pada anak yang baru lahir dari ibu yang positif HIV.

Kontributor : Hillary Sekar Pawestri



Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website suara.com. Situs https://www.nerf-herders-anonymous.net adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://www.nerf-herders-anonymous.net tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *